FX. Bolly Masan Univ. Mpu Tantular - FK. Hukum, Sosiologi (Dosen Pengampu Ibu Serepina Tiur Maida. S,Sos,. M. Pd,. M. Kom,. C. AC,. C. PS,. C. STMI,.)
TIPE - TIPE KELOMPOK SOSIAL
1. Klasifikasi Tipe - tipe Kelompok Sosial
Tipe tipe kelompok soaial dapat di klasifikasikan dari beberapa sudut atau atas dasar pelbagai kriteria ukuran. Ukuran lain yang diambil adalah atas dasar derajat interaksi sosial dalam kelompok sosial tersebut. Beberapa sosiolog memerhatikan pembagian atas dasar kelompok-kelompok di mana anggota-anggotanya saling mengenal (face-to-face groupings), seperti keluarga, rukun tetangga dan desa, dengan kelompok-kelompok sosial seperti kota-kota, korporasi dan negara, di mana anggota-anggotanya tidak mempunyai hubungan yang erat. Kelompok-kelompok sosial terdiri dari kelompok-kelompok yang terorganisasi dengan baik sekali seperti negara, sampai pada kelompok-kelompok yang hampir-hampir tak terorganisasi misalnya kerumunan. Dasar yang akan diambil sebagai salah satu alternatif untuk mengadakan klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial adalah ukuran jumlah atau derajat interaksi sosial atau kepentingan-kepentingan kelompok, atau organisasinya atau kombinasi dari ukuran-ukuran di atas. Sistematika di bawah ini menggambarkan klasifikasi tipe-tipe terpenting kelompok sosial ia terutama didasarkan pada kepentingan dan derajat organisasi kelompok tadi, sebagai salah-satu alternatif. Sistematika di bawah ini didasarkan pada struktur sosial dan merupakan hasil analisis secara struktural. Dalam membicarakan kelompok-kelompok sosial, haruslah dihindari paham prasangka bahwa kelompok-kelompok sosial merupakan lawan individu; kedua hanya dapat dimengerti bila dipelajari di dalam hubungan antara yang satu dengan yang lain (sebagai pasangan). Pengertian tersebut sangat penting untuk mencegah terjadinya pendapat-pendapat yang menyatakan bahwa bentuk kelompok-kelompok sosial tertentu seperti publik dan kerumunan merupakan ancaman terhadap kesejahteraan individu. Juga harus dihindari prasangka bahwa kelompok-kelompok sosial semata-mata ditimbulkan oleh naluri manusia untuk selalu hidup dengan sesama kelompok-kelompok sosial tersebut juga merupakan bentuk kehidupan yang nyata. Selain itu, terdapat pula pendapat-pendapat ekstrem yang mengatakan bahwa tak ada perilaku kelompok; semuanya harus dilihat dari sudut bahwa gejala-gejala sosial merupakan hasil dari perilaku-perilaku individu yang khusus. Pendapat yang mungkin tak benar ini harus pula dihindari, apabila kelompok sosial hendak ditelaah dengan senetral mungkin, tanpa prasangka.
2. Kelompok Sosial Dipandang dari Sudut Individu
Seorang warga masyarakat yang masih bersahaja susunannya, secara relatif menjadi anggota pula dari kelompok-kelompok kecil lain secara terbatas. Kelompok sosial termaksud biasanya adalah atas dasar kekerabatan, usia, seks dan kadang-kadang atas dasar perbedaan pekerjaan atau kedudukan. Keanggotaan masing-masing kelompok sosial tadi memberikan kedudukan atau prestise tertentu yang sesuai dengan adat istiadat dan lembaga kemasyarakatan di dalam masyarakat. Namun, yang penting adalah bahwa keanggotaan pada kelompok sosial (termasuk pada masyarakat-masyarakat yang masih sederhana) tidak selalu bersifat sukarela. Dalam masyarakat yang sudah kompleks, individu biasanya menjadi anggota dari kelompok sosial tertentu sekaligus, misalnya atas dasar seks, ras, dan sebagainya. Akan tetapi, dalam hal lain seperti di bidang pekerjaan, rekreasi dan sebagainya, keanggotaannya bersifat sukarela. Dengan demikian, terdapat derajat tertentu serta arti tertentu bagi individu-individu tadi sehubungan dengan keanggotaan kelompok sosial yang tertentu sehingga bagi individu terdapat dorongan-dorongan tertentu pula sebagai anggota suatu kelompok sosial. Suatu ukuran lainnya bagi si individu adalah bahwa dia merasa lebih tertarik pada kelompok-kelompok sosial yang dekat dengan kehidupan seperti keluarga, kelompok kekerabatan dan rukun tetangga, daripada misainya dengan suatu perusahaan besar atau negara. Apabila kelompok sosial dianggap sebagai kenyataan di dalam kehidupan manusia/individu, juga harus diingat pada konsep-konsep dan sikap-sikap individu terhadap kelompok sosial sebagai kenyataan subjektif yang penting untuk memahami gejala kolektivitas.
3. In - Group and Out - Group
Dalam proses sosialisasi (socialization), orang mendapatkan pengetahuan antara "kami"-nya dengan "mereka"-nya. Dan kepentingan suatu kelompok sosial serta sikap-sikap yang mendukungnya terwujud dalam pembedaan kelompok-kelompok sosial tersebut yang dibuat oleh individu. Kelompok sosial merupakan tempat di mana individu mengidentifikasikan dirinya sebagai in-groupnya." Jelas bahwa apabila suatu kelompok sosial merupakan "in-group" atau tidak bersifat relatif dan tergantung pada situasi-situasi sosial yang tertentu. Out-group diartikan oleh individu sebagai kelompok yang menjadi lawan in-groupnya. Sikap-sikap in-group pada umumnya didasarkan pada faktor simpati dan selalu mempunyai perasaan dekat dengan anggota- anggota kelompok. Sikap out-group selalu ditandai dengan suatu kelainan yang berwujud antagonisme atau antipati. Perasaan in-group dan out-group atau perasaan dalam serta luar kelompok dapat merupakan dasar suatu sikap yang dinamakan etnosentrisme." Anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu sedikit banyak akan mempunyai kecenderungan untuk menganggap bahwa segala sesuatu yang termasuk dalam kebiasaan- kebiasaan kelompoknya sendiri sebagai sesuatu yang terbaik apabila dibandingkan dengan kebiasaan-kebiasaan kelompok lainnya. Kecenderungan tadi disebut etnosentrisme, yaitu suatu sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan lain dengan mempergunakan ukuran- ukuran kebudayaan sendiri. Sikap etnosentris tadi sering disamakan dengan sikap memercayai sesuatu sehingga kadang-kadang sukar sekali bagi yang bersangkutan untuk mengubahnya, walaupun dia menyadari bahwa sikapnya salah. Sikap etnosentris disosialisasikan atau diajarkan kepada anggota kelompok sosial, sadar maupun tidak sadar, serentak bengan nilai-nilai kebudayaan yang lain. Di dalam proses tersebut sering kali digunakan stereotip, yakni gambaran atau anggapan-anggapan yang bersifat mengejek terhadap suatu objek tertentu. Sikap demikian mempunyai aneka macam dasar yang saling berhubungan atau bahkan kadang-kadang berlawanan satu dengan lainnya. In-group dan out-group dapat dijumpai di semua masyarakat, walaupun kepentingan-kepentingannya tidak selalu sama. Dalam masyarakat- masyarakat yang bersahaja mungkin jumlahnya tidak begitu banyak apabila dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat yang sudah kompleks, walaupun dalam masyarakat-masyarakat yang sederhana tadi pembedaan-pembedaannya tak begitu tampak dengan jelas. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa setiap kelompok sosial, merupakan in-group bagi anggotanya. Konsep tersebut dapat diterapkan, baik terhadap kelompok-kelompok sosial yang relatif kecil sampai yang terbesar selama para anggotanya mengadakan identifikasi dengan kelompoknya.
4. Kelompok Primer (Primary Group) dan Kelompok Sekunder (Secondary Group)
Di dalam klasifikasi kelompok-kelompok sosial, pembedaan yang luas dan fundamental merupakan pembedaan antara kelompok-kelompok kecil di mana hubungan antara anggota-anggotanya rapat sekali di satu pihak, dengan kelompok-kelompok yang lebih besar di pihak lain. Sejalan dengan pembedaan tersebut, Charles Horton Cooley mengemukakan perbedaan antara kelompok primer dengan kelompok sekunder yang ditulis dalam Social Organization pada 1909. Kelompok primer dan kelompok sekunder mungkin dapat diterjemahkan dengan istilah "kelompok primer" dan "kelompok sekunderii." Hasil hubungan timbal-balik antara anggota-anggota kelompok tersebut secara psikologis merupakan peleburan individu dengan cita- citanya masing-masing sehingga tujuan dan cita-cita individu juga menjadi tujuan serta cita-cita kelompok. Sudah tentu secara mutlak tak dapat dikatakan bahwa kehidupan serta hubungan antara anggota kelompok akan selalu harmonis. Tentu adakalanya terjadi perbedaan-perbedaan paham, bahkan pertentangan; namun semuanya itu demi kepentingan kelompok juga. Secara singkat dapatlah dikatakan bahwa kelompok primer adalah kelompok-kelompok kecil yang agak langgeng (permanen) dan berdasarkan kenal-mengenal secara pribadi antara sesama anggotanya.
5. Paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft)
Paguyuban merupakan bentuk kehidupan bersama di mana anggota- anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang menang telah dikodratkan. Kehidupan tersebut dinamakan juga bersifat nyata dan organis," sebagaimana dapat diumpamakan dengan organ tubuh manusia atau hewan. Bentuk Paguyuban terutama akan dapat dijumpai di dalam keluarga, kelompok kerabatan, rukun tetangga dan lain sebagainya. Sebaliknya, patembayan (gesellschaft) merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Bentuk gesellschaft terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal-balik, misalnya ikatan antara pedagang, organisasi dalam suatu pabrik atau industri, dan lain sebagainya. Keadaan dalam masyarakat-masyarakat yang kompleks, di mana telah diadakan spesialisasi bagi anggotanya masing-masing. Timbullah keahlian sehingga setiap golongan tak akan dapat hidup secara sendiri. Keadaan demikian dapat disamakan dengan bagian-bagian suatu organisme yang merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan karena apabila salah satu bagian rusak, organisme tersebut akan macet. Di dalam gemeinschaft atau paguyuban terdapat suatu kemauan bersama (common will), ada suatu pengertian (understanding) serta juga kaidah- kaidah yang timbul dengan sendirinya dari kelompok tersebut. Apabila terjadi pertentangan antara anggota suatu paguyuban, pertentangan tersebut tidak akan dapat diatasi dalam suatu hal saja. Masyarakat selalu memperlihatkan bentuk campuran antara paguyuban dan patembayan. Di antara keduanya bentuk-bentuk campuran seperti misalnya perseroan terbatas, firma serta badan-badan huku Jainnya. Ditinjau dari sudut sejarah, paguyuban timbul lebih dahulu daripada patembayan, walaupun dalam perkembangan lanjut di dalam patembayan, mungkin saja timbul lagi persamaan pikiran dan persamaan batin yang menimbulkan paguyuban.
6. Formal Group dan Informal Group
Apabila beberapa orang bekerja, mungkin karena mereka bertujuan untuk mencapai sesuatu sasaran. Kalau orang-orang tersebut setuju untuk melakukan sesuatu, mereka akan memerlukan organisasi. Untuk mencapai tujuan, diperlukan suatu tata cara untuk bekerja. Kadang-kadang mereka setuju untuk mencapai tujuan yang bersifat informal, yaitu mereka bekerja secara implisit. Akan tetapi, apabila terdapat begitu banyak orang, manusia menentukan tata cara untuk mengatur aktivitas. Mengatur aktivitas memerlukan organisasi yang diberangkatkan pada kepentingan bersama. Hasil-hasilnya adalah umpamanya, mengorganisasikan partai politik, membentuk rumah sakit, menentukan tata cara menjadi dasar suatu perkumpulan olahraga, dan seterusnya. Anggota-anggota menjadi suatu organisasi dan mereka mengharapkan untuk menaati hak dan kewajibannya. Kalau suatu organisasi sudah dibentuk, ia diasumsikan akan meru- pakan suatu identitas tersendiri yang khusus. Hidup organisasi biasanya lama, walaupun terjadi perubahan-perubahan, tetapi tanpa mengubah identitas yang menjadi strukturnya. Usaha-usaha kolektif para anggota organisasi disebut sebagai melakukan hal-hal yang bersifat formal karena didasarkan pada organisasi yang memperjuangkan kepentingan bersama. Unsur-unsur organisasi merupakan bagian-bagian fungsional yang berhubungan. Ada dua prinsip utama yang mengatur kehidupan sosial dan organisasi merupakan salah satu prinsip tersebut. Struktur sosial timbul berdasarkan agregasi orang-orang yang melakukan kegiatan-kegiatan yang bervariasi. Masing-masing berkehendak memuaskan kepentingan- kepentingannya, atau mereka mencerminkan organisasi usaha-usaha dari individu-individu yang mencapai tujuan umum, dan seterusnya. Apabila beberapa kelompok saling berhubungan, maka terjadi perkembangan organisasi sosial, walaupun tidak semua kolektivisasi menjadi organisasi formal. Kriteria rumusan organisasi formal atau formal group merupakan keberadaan tata cara untuk memobilisasikan dan mengoordinasikan usaha-usaha, yang mencapai tujuan berdasarkan bagian-bagian organisasi yang bersifat spesialisasi. Apabila hubungan-hubungan antaranggota formal group (disebut organisasi) dan semua kegiatan didasarkan pada aturan-aturan yang sebelumnya sudah ditentukan, tidak semua masalah dapat ditanggulangi. Proses interaksi sosialdan kegiatan-kegiatan dalam organisasi tidak mungkin semua dapat ditegakkan.
7. Membership Group dan Reference Group
Membership group merupakan kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Batas- batas yang dipakai untuk menentukan keanggotaan seseorang pada suatu kelompok secara fisik tidak dapat dilakukan secara mutlak. Hal ini disebabkan karena perubahan-perubahan keadaan. Situasi yang tidak tetap akan memengaruhi derajat interaksi di dalam kelompok tadi sehingga adakalanya seorang anggota tidak begitu sering berkumpul dengan kelompok tersebut, walaupun secara resmi dia belum ke luar dari kelompok yang bersangkutan. Keadaan demikian dapat dijumpai, misalnya, pada informal group. Untuk membedakan secara tegas keanggotaan atas dasar derajat interaksi tersebut, maka dikemukakan istilah nominal group-member dan peripheral group-member. Seorang anggota nominal group dianggap oleh anggota-anggota lain sebagai seseorang yang masih berinteraksi dengan kelompok sosial yang bersangkutan, tetapi interaksinya tidak intens. Seorang anggota peripheral group seolah-olah sudah tidak berhubungan lagi dengan kelompok yang bersangkutan sehingga kelompok tersebut tidak mempunyai kekuasaan apa pun juga atas anggota tadi. Perbedaan derajat interaksi dapat menimbulkan sub group karena biasanya anggota-anggota yang sering berinteraksi membentuk kelompok-kelompok tersendiri. Ini terjadi karena faktor-faktor kepentingan yang sama, keanggotaan serta sosial yang sama, nilai-nilai sosial yang sama, dan sebagainya. Jadi, ukuran utama bagi keanggotaan seseorang adalah interaksinya dengan kelompok sosial tersebut, termasuk para anggotanya. Kriteria tersebut yang paling tidak tergantung pada keadaan menimbulkan ketidakpastian pula pada ukuran-ukuran apakah yang dipakai bagi seseorang yang bukan anggota kelompok tersebut (non-membership).
8. Kelompok Okupasional dan Volunter
Dalam perkembangan lanjut, spesialisasi berkembang terus menjadi hal-hal yang lebih khusus lagi. Muncul pabrik-pabrik di mana para pekerja hanya bertanggung jawab atas satu unsur tertentu dari keseluruhan hasil produksi pabrik tersebut. Pekerja menjadi sernakin mampu dalarn bidang- bidang yang ditugaskan padanya dan kurang mampu menjalankan tugas lain, walaupun di tempat pekerjaan yang sama. Timbullah keterampilan- keterampilan tertentu, yang dipelajari secara ilmiah (pada masyarakat bersahaja tradisional keterampilan dipelajari melalui tradisi). Oleh karena itu, di samping kelompok kekerabatan yang semakin pudar fungsinya, muncul kelompok okupasional yang merupakan kelompok yang terdiri dari orang-orang yang melakukan pekerjaan sejenis. Kelompok-kelompok semacam ini kemudian sangat besar peranannya di dalam mengarahkan kepribadian seseorang (terutama yang menjadi anggotanya). Dengan semakin berkembangnya masyarakat, pengkhususan di- kembangkan secara ilmiah dan dipusatkan pada lembaga-lembaga pendidikan tertentu. Mereka yang telah menjalankan pendidikan pada lembaga-lembaga tersebut menjadi orang-orang yang sangat terampil dan menguasai ilmu yang dipelajarinya sehingga dapat membantu masyarakat. Melalui keahliannya, mereka membantu masyarakat untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu. Oleh karena itu, muncullah kelompok profesi yang terdiri dari kalangan profesional yang seolah-olah mempunyai monopoli terhadap bidang ilmu dan teknologi tertentu. Kelompok profesi ini mengembangkan patokan-patokan tingkah laku sendiri, yang lazim disebut etika profesi. Apabila dibukukan disebut kode etik profesi. Apabila salah seorang anggota kelompok profesi melakukan kesalahan, maka yang menilai adalah teman-teman sejawatnya. Salah-satu akibat dari tidak terpenuhinya kepentingan-kepentingan itu, baik yang bersifat material maupun spiritual, adalah munculnya kelompok-kelompok volonter. Kelompok volonter mencakup orang- orang yang mempunyai kepentingan sama, namun tidak mendapatkan perhatian masyarakat yang semakin luas daya jangkaunya tadi. Dengan demikian, maka kelompok-kelompok volonter akan dapat memenuhi kepentingan-kepentingan anggotanya secara individual, tanpa meng- ganggu kepentingan masyarakat secara umum. Kelompok-kelompok volonter itu mungkin dilandaskan pada kepen- tingan-kepentingan primer. Kepentingan primer harus dipenuhi, karena manusia harus dapat hidup wajar.
Sumber : Sosiologi Suatu Pengantar, oleh : Prof. Soerjono Soekamto dan Dra. Budi Sulistyowati, M. A - Sosiologi
( Dosen Pengampu Ibu Serepina Tiur Maida, S. Sos,. M. Pd,. M. I.Kom,. C. AC,. C. PS,. C. STMI,.)
Materinya sangat lengkap
BalasHapus