Kamis, 24 Oktober 2024

Artikel 8 - Generasi Z

 FX. Bolly Masan Univ. Mpu Tantular - FK. Hukum, Sosiologi (Dosen Pengampu Ibu Serepina Tiur Maida. S,Sos,. M. Pd,. M. Kom,. C. AC,. C. PS,. C. STMI,.)


KARAKTERISTIK DAN TANTANGAN GENERASI - Z



 

        Generasi Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1990-an hingga awal 2010-an, dikenal sebagai generasi digital. Mereka tumbuh di era di mana teknologi menjadi teman setia dalam kehidupan sehari-hari. Smartphone, internet, dan media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Meskipun Generasi Z cenderung tergantung pada teknologi, tapi hal ini juga membuka peluang besar bagi mereka untuk mengembangkan kemandirian dan kreativitas. Jadi, walaupun teknologi selalu menemani, Generasi Z tetap punya potensi besar untuk tumbuh dan berkembang secara mandiri. Memang perlu diketahui bahwa kemajuan teknologi telah menciptakan ketergantungan yang kuat di kalangan Generasi Z. Ketersediaan informasi dan hiburan dalam genggaman mereka melalui smartphone telah menyebabkan banyak dari mereka merasa sulit untuk terlepas dari teknologi. Hal ini terbukti dengan tingginya waktu yang dihabiskan untuk menggunakan media sosial dan konsumsi konten digital. Meskipun demikian, ketergantungan ini juga membawa dampak negatif terhadap kesehatan mental dan fisik Generasi Z. Maka pandangan Sosiologi terhadap Generasi Z ini adalah :

 

·         1. Ketergantungan pada teknologi





Generasi Z lahir di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang signifikan. Mereka sangat terhubung dengan teknologi dan bergantung pada internet untuk berbagai hal, seperti pendidikan, pengetahuan, dan dunia sosial. Tumbuh di era digital yang sangat dinamis, Generasi Z memiliki akses yang luas terhadap teknologi sebagai sarana pembelajaran yang sangat efektif. Meskipun demikian, mengakui peran kemandirian dalam perkembangan mereka tetaplah penting. Teknologi adalah alat yang sangat berguna untuk memperluas pengetahuan mereka, namun mereka memerlukan lebih dari sekedar keterampilan digital untuk menjadi mandiri. Hal ini mencakup kemauan untuk aktif mencari ilmu, meningkatkan keterampilan pribadi, dan menghadapi tantangan langsung di dunia nyata. 


Untuk menghadapi tantangan ini, penting untuk mengembangkan kemandirian Generasi Z agar mereka dapat mengatur waktu dengan lebih baik, menghindari hal-hal negatif, dan menggunakan teknologi secara efektif untuk mencapai tujuan mereka. Generasi Z perlu mengembangkan literasi digital, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kemampuan beradaptasi, keterampilan komunikasi, empati, dan kemandirian. Di sisi lain, Generasi Z juga menunjukkan potensi besar dalam mengembangkan kemandirian mereka. Mereka mampu menggunakan teknologi untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan mereka, serta memnafaatkannya sebagai alat untuk mengekspresikan kreativitas. Banyak dari mereka menjadi pengusaha muda, konten creator, atau aktivis sosial, melalui platform digital. Ketika Generasi Z mencari kebebasan dan koneksi, mereka juga menghadapi kebutuhan untuk mempertahankan kemandirian.Kemudahan akses terhadap informasi menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai seberapa mandiri generasi ini nantinya.Kemandirian bukan hanya kemampuan mengurus diri sendiri secara finansial dan menjalankan tugas sehari-hari, namun juga kemampuan mengambil keputusan dan mengatasi tantangan hidup tanpa terlalu bergantung pada teknologi. Untuk memahami gimana gaya hidup Generasi Z tuh sebenernya, kita harus ngehargain efek teknologi ke kesehatan mental mereka. Ketergantungan sama media sosial dan tekanan buat selalu online bisa bikin muncul masalah serius, kayak kecemasan atau depresi. 


Makanya, Generasi Z perlu bener-bener aware sama dampak psikologis dari kebanyakan main teknologi, dan ngambil langkah buat jaga-jaga supaya tetep seimbang. Selain itu, aspek kemandirian dalam pengembangan keterampilan dan pertumbuhan pribadi juga berperan penting dalam perialanan Generasi Z. Teknologi menyediakan platform untuk pembelajaran online dan akses terhadap berbagai informasi, namun kemandirian juga memerlukan perolehan pengetahuan dan dorongan untuk belajar. Meskipun penggunaan teknologi bersifat mendukung, pendidikan tradisional dan pengalaman dunia nyata masih menjadi faktor penting dalam menumbuhkan kemandirian. Untuk mencapai keseimbangan yang sehat antara pemanfaatan teknologi dan pengembangan kemandirian, sebuah sinergi yang kuat di antara pemangku kepentingan utama, termasuk pendidik, orang tua, dan masyarakat, menjadi imperatif. Pendidikan komprehensif para pendidik dan pendekatan pembinaan yang cermat memberi Generasi Z landasan yang kuat untuk mengembangkan keterampilan penting. 


Dukungan sosial yang berkelanjutan dari keluarga dan komunitas juga memberikan landasan penting, memberi ruang untuk meningkatkan keterampilan interpersonal, mengatur waktu mereka secara efektif, dan mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan, selain itu, belajar tentang risiko dan manfaat teknologi merupakan landasan penting untuk membentuk pemikiran kritis. Hal ini memungkinkan para Generasi Z untuk tidak hanya memahami secara mendalam dampak teknologi, namun juga membuat keputusan yang cerdas dan bertanggung jawab saat menggunakan sumber daya digital. Melalui kolaborasi yang efektifantara para pemangku kepentingan ini, Generasi Z dapat memanfaatkan teknologi secara aktif sambil mempertahankan esensi kemandirian, landasan terpenting untuk menghadapi dunia yang penuh dinamika saat ini. Mengingat tantangan perubahan besar saat ini, generasi ini mempunyai potensi besar untuk secara aktif menentukan arah masa depan mereka. Keunikan gaya hidup mereka terletak pada kemampuan mereka menjembatani kesenjangan antara penggunaan teknologi dan peningkatan kemandirian pribadi. Dengan pemahaman mendalam tentang peran teknologi dan nilai kemandirian, Generasi Z  memiliki kemampuan untuk menilai dan menciptakan gaya hidup seimbang.


 

·        2.  Perubahan sistem nilai





    Generasi Z memiliki pola komunikasi yang menghasilkan pertukaran informasi yang luar biasa. Hal ini telah menumbuhkan sistem nilai baru yang berdampak pada cara pandang mereka terhadap hubungan-hubungan.Generasi Z, yang umumnya merupakan individu yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, seringkali diidentifikasi dengan nilai-nilai yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka cenderung mengutamakan keberagaman, kesetaraan, keberlanjutan, dan advokasi terhadap isu-isu sosial. Keberagaman menjadi nilai yang penting bagi Gen Z, mereka menerima dan menghargai perbedaan budaya, ras, agama, dan orientasi seksual. 


    Kesetaraan juga menjadi hal yang dijunjung tinggi, baik dalam kesempatan pendidikan, pekerjaan, maupun hak asasi manusia. Selain itu, generasi Z juga sangat peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Mereka menyadari pentingnya menjaga alam dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Keterlibatan dalam advokasi terhadap isu-isu sosial seperti hak asasi manusia, perubahan iklim, kesetaraan gender, dan keadilan rasial juga menjadi bagian dari nilai dan kepercayaan mereka. Dengan demikian, generasi Z menjadi agen perubahan yang berperan penting dalam mendorong perubahan positif dalam masyarakat, baik dalam hal keberagaman, keberlanjutan, maupun advokasi terhadap isu-isu sosial.

 

 

 

·         3. Konstruksi budaya



    Generasi Z mengalami tantangan dalam konstruksi budaya, seperti bahan bacaan, pengajaran, ruang interaksi, dan nilai-nilai yang diajarkan di rumah dan ruang pendidikan. Sebagai ibukota negara, Jakarta merupakan kota dengan penduduk yang memiliki beragam latar belakang. Sebagai kota modern, kota Jakarta memiliki sebuah tempat yang merupakan cerminan dari masyarakatnya, terbentuk melalui internet menjadi dunia digital kota Jakarta. 


    Sebagai digital natives, generasi Z kota Jakarta merupakan kelompok masyarakat yang paling familier dengan ruang virtual kota Jakarta. Generasi Z kota Jakarta memiliki peran penting dalam proses terbentuknya fenomena budaya populer. Makalah ini akan membahas mengenai peran generasi Z dalam ruang virtual kota Jakarta sebagai kunci dari terbentuknya budaya populer, dengan menggunakan konsep antropologi digital dari Horst dan Miller mengenai materialitas. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data makalah adalah studi literatur dengan mengkaji data-data berupa buku dan artikel. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa beberapa fenomena budaya populer kota Jakarta merupakan sebuah fenomena yang mendapatkan atensi masyarakat luas berkat bantuan generasi Z kota Jakarta.



4. Peran dalam membangun Indonesia




    Generasi Z memiliki peran penting dalam membangun Indonesia, seperti mendorong literasi digital dan inovasi. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghadapi generasi Z, di antaranya: Mengawasi penggunaan internet anak, Memberikan contoh penggunaan internet yang baik, Memberikan arahan untuk mengurangi ketergantungan pada gadget, Memberikan teladan dalam tindakan sederhana. Gen Z memiliki karakteristik digital natives, atau generasi internet dengan ciri utamayaitu sangat akrab dengan teknologi digital, dan menjadikan teknologi digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. 

    Gen Z sangat terbiasa berselancar di dunia maya dan menggunakan teknologi digital dalam bekerja dan beraktivitas. Dengan kemampuan penguasaan digitalyang jauh melampaui generasi lainnya, maka hampir selalu Gen Z memimpin dalam penggunaan teknologi digital di berbagai sektor pembangunan. Ciri lain atau tipikal Gen Z adalah haus dengan rasa ingin tahu, kreatif, inovatif, dan bebas berekspresi. Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z perlu diberdayakan sebagai pendobrak tatanan sosial yang sudah terlalu lama berada di zona nyaman. Untuk itu Gen Z dapat mengambil peran sebagai agen perubahan pembangunan. Gen Z dapat menjadi role modelyang menjadi contoh dalam berpikir, bertindak, berprestasi, dan mengambil keputusan yang tepat. Sebagai penggerak perubahan, gen Z juga dapat mengajak semua orang di sekitarnya untuk berkolaborasi dan bersinergi dalam menyukseskan pembangunan. 

    Gen Z dapat terlibat aktif secara konkret dalam pembangunan didaerah masing-masing, tidak hanya pembangunan dikota melainkan juga di desa. Fokus utama pembangunan di desa ada pada upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan yang sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat di desa tesebut. Dalam pengambilan pengambilan keputusan desa melalui musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes), dapat disepakati apa saja yang menjadi kebutuhan Desa. Tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable developments goals atau SDGs) desa dalam Permendesa 06/2023 ialah untuk mewujudkan desa tanpa kemiskinan, pendidikan desa berkualitas, serta infrastruktur dan inovasi desa sesuai kebutuhan.



KESIMPULAN :

    Selaras dengan karakter Gen Z yang inovatif, kreatif, unggul dalam penguasaan teknologi digital, maka Gen Z dapat menjadi roda penggerak di desa/kelurahan sebagai basis pembangunan. Keunggulan karakteristik Gen Z perlu dioptimalkan sehingga Gen Z dapat lebih berperan dan berpartisipasi dalam setiapmusyarawah desa, pengambilan keputusan, hingga terlibat dalam pelaksanaan keputusan masyarakat desa. Gen Z juga dapat memberikan saran dan masukan dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa ketika melaksanakan Musrenbangdes. Partisipasi pemuda Gen Z diharapkan dapan menjadikan pembangunan desa lebih inovatif dan kreatif. Contohlain peran Gen Z adalah berkolaborasi dengan kepala desa dalam melakukan sosialisasi dan publikasi terkait rencana kerja pembangunan. 

    Hal ini dapat dilakukan melalui musyawarah persiapan pelaksanaan kegiatan desa, penggunaan sistem informasi desa, papan informasi desa, dan media lain. Keterampilan Gen Z dalam penguasaan teknologi digital dapat dimanfaatkan pada kegiatan-kegiatan tersebut. Sebagai agen penggerak di desa, maka Gen Z juga harus terlibat aktif di setiap pelaksanaan rencana kerja pembangunan desa. Penggunaan teknologi digital semakin dibutuhkan dalam berbagai aktivitas di tengah peradaban modern sekarang. Pemuda yang tergolong dalam Gen Z, memiliki kemampuan yang baik dalam penguasaan teknologi dimaksud. Mereka dapat memimpin dan memprakarsai berbagai aktivitas yang memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pembelajaran dan bekerja. Selain itu, Gen Z harus dioptimalkan perannya sebagai agen penggerak pembangunan untuk mendukung dan melaksanakan program kerja di daerah masing-masing. Eksistensi Gen Z dapat dilibatkan dalam tim pelaksanaan kegiatan pembangunan daerah. Untuk itu pemerintah perlu memberikan ruang lebih kepada Gen Z dalam melaksanakan gerakan pembangunan, tidak hanya di kota tapi juga menjangkau desa.

 

Sumber : Compasiana.com - Liputan 6.com - LIB. UI.com -kemendikbus.go.id -  Sosiologi 

(Dosen pengampun Ibu Serepina Tiur Maida, S. Sos., M. Pd,. M.Kom,. C. AC,. C. PS,. C. STMI.,)



6 komentar:

Artikel 9 - Pernikahan Adat Flores Manggarai

  FX. Bolly Masan Univ. Mpu Tantular - FK. Hukum, Sosiologi (Dosen Pengampu Ibu Serepina Tiur Maida. S,Sos,. M. Pd,. M. Kom,. C. AC,. C. PS,...